Kamis, 07 Juni 2018

Semua akan Merasakan Kematian


TAK ada. Tak ada yang menginginkan mati sia-sia. Pun mereka yang akhirnya mati dalam sebuah kecelakaan tragis pasti pernah berdoa tentang kematian yang baik, husnulkhatimah.

Sedekat nadi, sedekat bayangan. Itulah gambaran ketakutan saya terhadap kematian. Bayangkan saja, kematian begitu dekat bahkan sedekat nadi. Selalu bersama setiap hari, pada tiap helaan napas. Kematian juga sedekat bayangan. Mengikuti ke mana pun. Ada di mana pun. Menemani kapan pun.
Saya kerap merinding bila membahas tentang kematian. Karena kita tahu kematian adalah kepastian. Tak ada nilai tawar. Kita hanya antre hingga tiba masanya untuk 'pulang'.

Saya memang pernah takut mati. Tapi tidak setiap hari. Bisa gila saya bila tengkungkung rasa ketakutan berlebih karena kematian. Semasa kecil, pikiran saya tentang kematian hanya ini: kematian adalah rasa sakit, terpisah dari orang terkasih, dan disiksa entah berapa lama. Tahu apa yang terjadi setelahnya? Saya menjadi supertakut. Menjadi sosok superintrovert karena dibayang-bayangi kematian. Apakah itu bagus? Ya. Tentu. Bagus dong karena ingat mati. Tapi tidak dengan efeknya!! Saya menjadi manusia yang tidak produktif. Sama sekali.

Seiring waktu berjalan, saya mulai menemukan jawaban atas ketakutan itu. Kematian adalah pasti. Kita tidak mati, kita hanya akan pulang ke tempat kita sebenarnya. Sejak saat itu, saya mulai pasrah. Tanpa mengesampingkan hal-hal duniawi, untuk bekal nanti di akhirat.

Kita tentu sepakat bahwa sampai kapan pun tidak ada dan tidak ditemukan sebuah formulasi bahkan obat penawar kematian. Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang tidak tersentuh oleh kematian. Bahkan, Rasulullah SAW, sang kekasih Allah-pun merasakan kematian. Jadi, kematian tidak bisa ditolak atau bahkan dihindari sampai ke ujung dunia.

Sekarang pertanyaan sebenarnya adalah bukan kapan kematian akan menjemput, tapi apa yang akan kita persiapkan bila kematian itu tiba. Itu akan terdengar lebih nyaman dan tenang, bukan?

Bila kematian merenggut saya lebih cepat dari helaan napas, saya sangat sedih bila tak mampu memberikan hal terbaik untuk suami dan anak dan. Siapa yang akan menyiapkan kemeja untuk suami bekerja? Siapa yang akan mengingatkan dia tentang jaket yang kerap dia lupa bawa? Siapa yang akan mengingatkan dia untuk meletakkan kembali handuk di jemuran? Siapa yang yang akan cerewet menasihati perihal odol yang seharusnya dipencet dari bawah bukan dari tengah? Siapa yang akan memeluknya kala demam menyerang di tengah malam? Dan blablabla lainnya yang tak sanggup kusebutkan di sini satu-satu. *tiba-tiba nangis....

Maka dari itu, saya sering berdiskusi berujung perdebatan dengan suami tentang kematian. Saya selalu bilang lekaslah mencari pengganti peran istri dan ibu bila diri ini pulang lebih dulu. Agar saya tenang akan ada seseorang yang merawat suami dan anak kelak. Tetapi, lagi-lagi saya dibuat menangis di pelukannya.
 
Dia selalu melontarkan kalimat ini entah sudah berapa kali: Aku ingin bertemu kamu di Surga. Kalau aku mencari penggantimu, aku takkan pernah bertemu kamu di Surga. Aku mau kita bertemu di Surga. ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar