Selasa, 20 Agustus 2019

Polusi, Monster yang Siap Membunuh Kapan Saja

oleh: Fatmasari Margaretta


Bumi sedang menunjukkan ketidakberdayaannya pada manusia yang semena-mena. Bukan tak mungkin bila lima tahun ke depan bumi semakin kritis. Perubahan iklim di mana-mana menyebabkan bumi enggan ramah pada manusia. 

Jakarta, misalnya. Kemacetan memang telah mendarah daging bagi warga Jakarta. Tapi, tidak dengan polusi. Ia makin membunuh warga Jakarta secara perlahan. Ironisnya, warga Jakarta menyalahkan para petinggi dalam buruknya kualitas udara. Sementara setiap hari mereka bergelut dengan karbon dioksida dan gas-gas lainnya. 

Contoh kecilnya, sisa pembakaran dari mesin kendaraan alias knalpot dan aktivitas pabrik yang tidak bisa dihentikan secara langsung. Keadaan itu berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah kita peduli akibat jangka panjangnya. Kini, kondisi itu mempengaruhi kondisi iklim yang kian mengerikan. 

Sebuah laporan berjudul Kualitas Udara Dunia 2018 pada Selasa (5/3), AirVisual IQAir menetapkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara. Laporan yang merupakan hasil kerja sama dengan Greenpeace Asia Tenggara ini menyoroti keberadaan particulate matter (PM) 2,5 dalam udara kota-kota besar di dunia sepanjang 2018. PM 2,5 adalah partikel halus yang ukurannya tak lebih besar dari 2,5 mikrometer.

Dalam laporan tersebut, Jakarta dan Hanoi berada di dua posisi teratas dengan label kota di Asia Tenggara dengan kualitas udara terburuk. Sisanya ditempati kota-kota lain, seperti Filipina dan Thailand. Jakarta memiliki konsentrasi rata-rata tahunan P) 2,5 tahun 2018 mencapai 45,3 µg/m3, sedang Hanoi, 40,8 µg/m3. Artinya, konsentrasi PM 2,5 di Jakarta sampai empat kali lipat dari batas aman tahunan menurut standar WHO, yakni 10 µg/m3. Angka itu, melebihi batas aman tahunan, padahal standar nasional pada PP Nomor 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yakni 15 µg/m3.

AirVisual IQAir juga mengungkapkan sebuah fakta mencengangkan. Yakni, polusi dari kendaraan pribadi di Jakarta jadi sumber polusi. Belum lagi ditambah polutan dari PLTU yang mengungkung Jakarta dalam radius 100 km turut berkontribusi meningkatkan konsentrasi PM 2,5. Sungguh data itu membuat gambaran Jakarta kelabu.

Polusi dan Kesehatan
Bisa kita bayangkan betapa polusi menjadi monster yang bisa saja membunuh warga Indonesia, terutama Jakarta. Kualitas udara mampu mengancam kesehatan para anak bangsa. Seperti penyakit pernapasan dan penyakit menular. Belum lagi penyakit mental yang bisa menyerang siapa pun. 

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE dalam laman Departemen Kesehatan menjelaskan, perubahan iklim juga akan memicu semakin berkurangnya keanekaragaman hayati. Dengan begitu, dapat menyebabkan kelangkaan bahan baku obat dari tumbuhan. Dampak perubahan iklim seperti mata rantai yang sulit diputus. Kecuali dengan kesadaran invidu untuk mau memutuskan mata rantai tersebut. 

Menjaga Bumi
Bukan hanya Jakarta yang tengah berjuang lepas dari polusi udara. Di kota-kota besar hingga perdesaan pun merasakan dampak yang luar biasa. Sayang, pemerintah kurang bertaji menekan kepemilikan unit kendaraan pribadi. Padahal, cara itu sudah diterapkan puluhan tahun yang lalu oleh negara maju seperti Singapura atau Jepang. 

Kebijakan penerapan electronic road pricing (ERP) menjadi salah satu upaya pemerintah menekan volume kendaraan pribadi. Dengan sistem ERP berbasis satelit, pengendara kendaraan bermotor akan dikenai biaya sesuai dengan jarak tempuh. Semakin jauh jarak tempuh kendaraan pribadi, akan semakin mahal biaya ERP yang dikenakan kepada pengendara kendaraan bermotor tersebut.

Ya, sebenarnya sederhana untuk menjaga bumi dari kungkungan polusi. Beralih ke kendaraan umum adalah salah satu cara agar menekan kendaraan pribadi yang mampu menyebabkan polusi dengan cepat. Bila terasa susah, sebaiknya dari sekarang kita mengurangi menggunakan kendaraan pribadi kecuali mendesak. Kedua, mulailah menanam pohon di halaman rumah. Mari berkontribusi sedikit saja pada negara kita. Hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar bagi negara bila dilakukan secara terus-menerus. 

Semoga kita berhenti berdebat tentang siapa yang salah karena polusi tak kunjung menemukan solusi. Sebaliknya, sadarlah bahwa bumi ini ingin diselamatkan.








Kamis, 01 Agustus 2019

Yang Terjahat Adalah Jarak


Kemarin
Kulihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku

Tangis itu pun pecah. Memuncah dalam diam. Ellie tak mampu menahan bulir air matanya. Di pojok sudut apartemennya, dia menangis sendirian. Jam tangannya menunjukkan pukul 19.03. Namun kesunyian malam saat itu tak mampu membuat Ellie tenang. Kabar terburuk yang didapat mengoyak perasaannya saat itu. Suami tercintanya, Tirta, tewas dalam kecelakaan udara.

                                                ***     ***     ***

Masih jelas teringat semua kekonyolannya bersama Tirta setiap hari. Masih terpampang manis seluruh kenangan dengan laki-laki yang susah payah membahagiakannya. Ellie, seorang sekretaris di perusahaan yang bergerak di bidang properti. Sedangkan Tirta, seorang konsultan pemerintahan di ibu kota. Mereka hanya bisa bertemu saat petang dan sebelum matahari terbit. Semua risiko itu tak membuat hubungan mereka renggang, kecuali satu hari di tanggal 15 itu.

“Halo seksiku, kita bisa ketemu di jam makan siang? Ada yang harus aku sampein ke kamu,” Tirta memulai percakapan via telepon.
”Boleh gantengku. Kebetulan lagi ada waktu luang. Di tempat makan biasa ya.”
“Oke seksiku. Miss you.
Miss you too sayang.”

***     ***     ***

Tirta tiba lebih awal. Ada raut kecemasan di garis wajahnya. Beberapa menit kemudian muncul sosok yang ditunggu. Tak berhenti Tirta mengetuk meja dengan jarinya hingga membuat Ellie curiga.
“Loh, sudah pesan makanan rupanya. Oh ya, ada apa? Apa yang mau kamu omongin sayang?”
“Aku to the point ya. Gini, minggu depan aku ditugaskan ke Inggris. Ini kesempatanku sebenarnya untuk promosi jabatan. Kamu ngizinin aku kan?"
Ellie terdiam. Ellie tak pernah bisa jauh dari Tirta. Segala cobaan ujian bisa mereka lewati kecuali jarak. Ya, jarak adalah musuh terbesar bagi Ellie. Dan, mereka pasti tahu ini akan jadi awal kerenggangan hubungan itu.
“Jangan tanyakan hal itu. Jangan tanyakan hal yang kamu tahu jawabannya.” mata Ellie berkilat.
Mereka terdiam begitu lama. Makanan di depan mereka dingin tak tersentuh.

***     ***     ***

Kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya


            “Sayang, tolong jangan pergi. Ini sangat mendadak. Aku gak sanggup berteman dengan jarak.”
            “Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku pantas. Sepulang dari Inggris, berhentilah bekerja. Sekali ini saja. Tak lama.”

Balasan pesan pendek dari Tirta sungguh mengalutkan pikiran Ellie. Dia tidak rela suaminya kali ini berangkat ke Inggris. Ada sesuatu bergemuruh di hati dan pikirannya yang terus memburunya tiap waktu dan siap membunuhnya kapan saja.
Semalaman Ellie tak bisa memejam. Suaminya tidur lebih awal, mungkin khawatir ketinggalan pesawat.

***     ***     ***

Tirta tetap pada keputusannya. Ellie pun enggan mengantarkannya ke bandara. Tirta membiarkan Ellie berlaku demikian, karena dia ingin membuktikan dia bisa membahagiakan Ellie lebih dan lebih setelah jabatannya naik usai tugas dari Inggris. Namun, musibah terjadi beberapa jam setelah pesawat lepas landas. Pesawat yang ditumpangi Tirta lepas kendali dan kecelakaan pun tak terhindarkan. Seluruh orang di dalam pesawat tewas, tak terkecuali Tirta.

Dan lihatlah, sayang
Hujan turun membasahi
Seolah turun air mata

Pihak maskapai mengubungi keluarga korban tewas. Ellie tak berdaya menerima kabar itu. Air matanya terus menjadi saksi atas cintanya pada Tirta.
“Kamu bodoh sayang, kamu bodoh. Kenapa kamu gak denger omonganku untuk membatalkan keputusanmu? Maafkan aku, maafkan aku karena gak bisa menahanmu pergi!” teriak Ellie.
Bagi Ellie, Tirta adalah segalanya. Semua yang dia lakukan akan terasa sempurna bila bersama Tirta. Termasuk, memberi saran sepele pada Ellie.
Sekarang, apa daya Ellie tanpa Tirta? Ellie merasa tak mampu hidup tanpa Tirta. Lima tahun pacaran dan tiga tahun menikah membuat Ellie bahagia. Dilahirkan sebagai anak yatim piatu, membuat dirinya dikuatkan saat bersama Tirta. Karir Ellie yang terbilang lebih cemerlang daripada Tirta akhirnya hanya sia-sia belaka tanpa sosok Tirta dalam hidupnya.

***     ***     ***

Seorang sekuriti memaksa masuk kamar 309. Sebab, sudah dua hari penghuni kamar tersebut tak menampakkan aktivitas. Ellie pun terdata absen tanpa keterangan di kantornya.
Akhirnya pihak apartemen memutuskan untuk masuk paksa kamar Ellie. Sekuriti menemukannya tewas bersimbah darah di kamar mandi. Kepolisian menyatakan Ellie bunuh diri dengan memotong urat nadi di tangan kirinya menggunakan pisau. Di tangannya tetap tergenggam foto pernikahannya bersama Tirta.

Aku pun sadari
Engkaulah firasat hati

Minggu, 27 Januari 2019

Bukan Rumah

Rumah ini bukan rumah
Hangatnya tak terasa
Padahal temu adalah niscaya
Kakak-adik bak bukan siapa-siapa

Rumah ini bukan rumah
Makan tak pernah semeja
Jarang kudengar pamit salam
Tiba-tiba pergi secepat kilat

Rumah ini bukan rumah
Hanyalah melahirkan duka
Saling umpat sesama saudara
Suasana pagi-malam serupa di neraka

Rumah ini bukan rumah
Cicak dan serangga lain pun terheran-heran
Mengapa sepi selalu menjelma tanya
Apakah penghuninya ini benar-benar keluarga?

Rumah ini bukan rumah
Sebab pulang tak menjadi jawaban keresahan
Maka ku akhiri segala air mata dan debat
Pergi dari rumah selamanya

Biarlah...
Kali ini aku mengalah
Agar rumah itu menjadi rumah
Yang diharapkan pulangnya

Bangkalan, 28 Januari 2019

Jumat, 25 Januari 2019

Andai, Andai, dan Andai

Berhembus angin malam
Mencekam menghempas
Membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu

Kudekati dirimu
Kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus
Tak henti
Walaupun sampai akhir hayatku
Tapi tak lagi kau berada di sisiku

Kudekati dirimu
Kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun oh...
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus
Tak henti
Walaupun sampai akhir hayatku
Tapi tak lagi kau berada di sisiku
Oh... angin malam bawa daku kepadanya...
Oh... oh...

Mendengar lagu ini saat malam-malam memang resep yang paling pas untuk mengenang seseorang. Tentang detik-detik perpisahan, tentang rindu, bahkan tentang masihnya ada harapan agar perasaannya tersampaikan pada yang dicinta. Mungkin sebagian orang akan berderai air mata atau sebagian yang lain sekadar senyum. Saya termasuk dua-duanya. Om Broery, mengapa dirimu membawakan lagu ini begitu sedap?

Jangan ditanya lagi kadar kesedihan lagu ini. Segalanya tumpah kalau memang hati sedang sedih. Apalagi buat seseorang tipe melankoli macam saya. Secara otomatis merasa lagu ini diciptakan untuk saya.

Lagu ini mengingatkan saya pada seseorang yang pernah singgah dalam kehidupan saya. Masa terakhir saya bertemu dengannya memang malam hari yang hening dengan sisa senyumannya saja. Hingga kini masih saja teringat bila saya sedang sendiri atau mendengarkan lagu melow. Salah satunya, lagu Angin Malam ini.

Ingin rasanya seseorang yang meninggalkan saya mendengarkan lagu ini dan berharap dia paham tentang perasaan saya kala itu. Ingin rasanya dia kembali walau saya sadar itu sebuah kemustahilan. Andai, andai, andai, dan andai. Tentang setitik doa agar Tuhan melalui semesta menyampaikan rindu ke dalam hatinya. Sesederhana itu. Tidak bisa banyak berharap. Hanya itu yang berkecamuk di pikiran dan remuk redam dalam hati.

Ya, kita tidak bisa meminta seseorang untuk menetap selamanya di hidup kita. Tuhan sebenarnya sudah menyiapkan kita bertemu dengan dia untuk apa, untuk berapa lama. Ada si A yang ditakdirkan bertemu kita hanya untuk menjadikan kita pribadi sabar. Ada si B yang mengajarkan kita tentang kehilangan yang hakikatnya sebuah keniscayaan. Ada juga si C yang hadir hanya untuk membuat hati semakin kuat. Beruntung bila kita pada akhirnya bertemu dengan si Z yang Tuhan takdirkan menemani hidup hingga akhir hidup kita.

Lagu ini juga memiliki makna terhadap saya pribadi bahwa hidup ternyata tetap harus dijalani walau yang dicintai tak di samping kita. Hanya bisa mengenang tak boleh sedih berlebihan. Sepedih apa pun, sepahit apa pun kita wajib melek kalau hidup ini harus lebih baik dari sebelumnya.

Gak peduli lagu lawas, lagu ini berhasil membawa saya terhanyut dengan liriknya yang sedih tapi tidak terlalu galau. Ah Om Broery, bolehkah malam ini saja saya menangis mengenang dia yang hanya sekelebat hadir di kehidupan saya?

Jumat, 08 Juni 2018

Last but Not Least

SUDAH di penghujung tantangan ya ternyata. Sudah berakhir ya? Rasanya tak pernah rela. Rasanya enggan mengakui kalau tulisan ini adalah tulisan terakhir di Katahati Writing Challenge.

Berawal dari hobi membaca, aku pun ingin membiasakan diri menulis. Sebab, dari tulisan itulah kita abadi. Aku ingin anakku kelak bangga ibunya suka menulis apa pun. Tentang hidup, tentang kematian, tentang suka, tentang duka, tentang pelangi usai hujan, tentang rintik di bulan Juni, tentang hangat peluk ayahnya, atau bahkan tentang remeh temeh rambutnya yang mulai beruban.

Kali pertama tahu tentang @_katahatikita dari kolom explore di Instagram. Tertarik dengan background berwarna hijau tosca yang saat itu sangat mencolok. Lucu, unik.

Apa ya ini? Tujuh hari menulis? Wah, kok kebetulan ya lagi pengin nulis ada challenge kayak gini. Buka ah. Begitulah hal pertama yang membawaku menuju rumah hangat berikutnya.

Tanggal dua puluh empat bulan Mei, aku curi-curi waktu di kantor untuk langsung DM ke @_katahatikita. Aku tak mau ketinggalan kereta untuk daftar. Bodoh amat saat itu kalau aku adalah seorang perempuan dari Pulau Garam yang pastinya kalah apa pun dengan peserta lain. Bodoh amat. Saat langsung masuk WhatsApp Group? Tak pernah menyangka akan diterima oleh adminnya yang saat itu bernama Amel Widya. Lah, cek cek kok gak asing ya dengan wajahnya? Ternyata oh ternyata Mbak Amel ini adalah separo jiwanya Bang Krishna Pabichara, salah satu penulis favoritku. Huaa, happy-nya berlipat-lipat. Biarin dibilang kampungan atau apa, tapi saat itu benar-benar happy.

Ini pertama kalinya aku ikut tantangan menulis. Aku juga pertama kalinya ikut kegiatan yang diadakan @_katahatikita. Mungkin termasuk yang terlambat untuk belajar menulis. Tapi, lagi-lagi aku bodoh amat dengan anggapan 'terlambat' belajar menulis. Awalnya gak percaya diri. Duh, ibarat ikut ujian sekolah jangan-jangan kualitas tulisanku terburuk dan nilaiku paling jelek. Pikiran itu sempat 2-3 hari membayangi. Tapi akhirnya bisa aku hempaskan dengan perlahan-lahan terus menulis dan menulis.

Walaupun terbilang baru di dunia ini, aku ingin terus belajar. Karena menulis bukan masalah bakat. Menulis perihal terus mengasah tanpa lelah. Sebelum menulis di Katahari, biasanya aku menulis puisi dan cerpen di Ms. Word. Tapi, hanya rapi di folder saja. Tak pernah kupublikasikan. Tak pernah. Ya kalau quote ya sering diunggah, tapi untuk tulisan seperti puisi, cerpen, atau tulisan lain hanya jadi konsumsi pribadi semata. Berkat Katahati, aku mulai berani memublikasikan karya remehku ini. Berkat Katahati, akhirnya aku punya blog. Yang awalnya nulis tantangan pertama di Instagram dengan tulisan hingga tiga feed, bikin pusing kepala yang baca bolak-balik, akhirnya bikin Blog yang seadanya saja dulu. Yang terpenting menulis, hehe.

Di WAG, aku merasa punya ruang lingkup teman yang lebih luas. Meskipun via online, tapi sangat terasa vibrasi kekeluargaan dan kehangatan yang terjalin setiap harinya. Hebatnya, anggota WAG @_katahatikita selalu memberi dukungan ke anggota lain yang lagi kurang semangat menulis. Tak pernah aku melihat ada anggota iri hati atau merasa tersaingi atau merasa paling baik karena ini adalah suatu kompetisi menulis yang ada hadiahnya. TIDAK ADA. Semuanya saling dukung, saling hibur, sambil bercanda di sela-sela waktu kosong. Ah, kalian semua hebat, kalian semua terbaik, kalian semua berhak dapat hadiah buku. Give applause buat kalian semua yang ada di WAG @_katahatikita.

Aku akan merindukan momen WAG yang masih rame tengah malam bahas Parakang yang sangat asing di telinga. Akhirnya, aku jadi penyimak yang andal. Hahaha. Aku memang sudah biasa dengan makhluk halus dan berhasil tutup mata batin walau nanti terbuka kembali. Tapi, mendengar cerita tentang Parakang, rasanya tak akan pernah bosannya aku menyimak. Setelah ini, malam-malamku akan terasa berbeda. Tak ada lagi cerita Parakang atau cerita mistis lainnya yang berujung gelak tawa karena saling melempar lelucon. Tak ada lagi cerita dari para anggota yang isinya hebat-hebat, materinya keren-keren, kemampuan menulisnya jempol semua. Mereka semua guru bagiku dalam hal menulis dan tersenyum. Setelah ini aku akan lebih rajin menulis. Tentang apa pun.

Terima kasih buat Kak Amel yang selalu support anggota @_katahatikita, yang selalu berbaur dan humble. Aku bakal merindukanmu, Kak. Nomorku jangan dihapus ya, pasti aku sering-sering say hello buat silaturahmi dengan dirimu, Kak. Makasih buat Kak Irfan yang sudah menularkan ilmu menulisnya. Makasih buat semua anggota @_katahatikita yang selalu bisa bikin semangat naik lagi kalau lagi pusing dan cari waktu nulis. Silaturahminya jangan terputus setelah tantangan menulis ini kelar ya. Please jangan ya. Ayo kapan-kapan kalau kalian ke Madura, hubungi aku ya. Banyak banget loh destinasi wisata di sini. Aku akan merindukan kalian semua. ILU all...


Kamis, 07 Juni 2018

Semua akan Merasakan Kematian


TAK ada. Tak ada yang menginginkan mati sia-sia. Pun mereka yang akhirnya mati dalam sebuah kecelakaan tragis pasti pernah berdoa tentang kematian yang baik, husnulkhatimah.

Sedekat nadi, sedekat bayangan. Itulah gambaran ketakutan saya terhadap kematian. Bayangkan saja, kematian begitu dekat bahkan sedekat nadi. Selalu bersama setiap hari, pada tiap helaan napas. Kematian juga sedekat bayangan. Mengikuti ke mana pun. Ada di mana pun. Menemani kapan pun.
Saya kerap merinding bila membahas tentang kematian. Karena kita tahu kematian adalah kepastian. Tak ada nilai tawar. Kita hanya antre hingga tiba masanya untuk 'pulang'.

Saya memang pernah takut mati. Tapi tidak setiap hari. Bisa gila saya bila tengkungkung rasa ketakutan berlebih karena kematian. Semasa kecil, pikiran saya tentang kematian hanya ini: kematian adalah rasa sakit, terpisah dari orang terkasih, dan disiksa entah berapa lama. Tahu apa yang terjadi setelahnya? Saya menjadi supertakut. Menjadi sosok superintrovert karena dibayang-bayangi kematian. Apakah itu bagus? Ya. Tentu. Bagus dong karena ingat mati. Tapi tidak dengan efeknya!! Saya menjadi manusia yang tidak produktif. Sama sekali.

Seiring waktu berjalan, saya mulai menemukan jawaban atas ketakutan itu. Kematian adalah pasti. Kita tidak mati, kita hanya akan pulang ke tempat kita sebenarnya. Sejak saat itu, saya mulai pasrah. Tanpa mengesampingkan hal-hal duniawi, untuk bekal nanti di akhirat.

Kita tentu sepakat bahwa sampai kapan pun tidak ada dan tidak ditemukan sebuah formulasi bahkan obat penawar kematian. Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang tidak tersentuh oleh kematian. Bahkan, Rasulullah SAW, sang kekasih Allah-pun merasakan kematian. Jadi, kematian tidak bisa ditolak atau bahkan dihindari sampai ke ujung dunia.

Sekarang pertanyaan sebenarnya adalah bukan kapan kematian akan menjemput, tapi apa yang akan kita persiapkan bila kematian itu tiba. Itu akan terdengar lebih nyaman dan tenang, bukan?

Bila kematian merenggut saya lebih cepat dari helaan napas, saya sangat sedih bila tak mampu memberikan hal terbaik untuk suami dan anak dan. Siapa yang akan menyiapkan kemeja untuk suami bekerja? Siapa yang akan mengingatkan dia tentang jaket yang kerap dia lupa bawa? Siapa yang akan mengingatkan dia untuk meletakkan kembali handuk di jemuran? Siapa yang yang akan cerewet menasihati perihal odol yang seharusnya dipencet dari bawah bukan dari tengah? Siapa yang akan memeluknya kala demam menyerang di tengah malam? Dan blablabla lainnya yang tak sanggup kusebutkan di sini satu-satu. *tiba-tiba nangis....

Maka dari itu, saya sering berdiskusi berujung perdebatan dengan suami tentang kematian. Saya selalu bilang lekaslah mencari pengganti peran istri dan ibu bila diri ini pulang lebih dulu. Agar saya tenang akan ada seseorang yang merawat suami dan anak kelak. Tetapi, lagi-lagi saya dibuat menangis di pelukannya.
 
Dia selalu melontarkan kalimat ini entah sudah berapa kali: Aku ingin bertemu kamu di Surga. Kalau aku mencari penggantimu, aku takkan pernah bertemu kamu di Surga. Aku mau kita bertemu di Surga. ..