Jumat, 25 Januari 2019

Andai, Andai, dan Andai

Berhembus angin malam
Mencekam menghempas
Membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu

Kudekati dirimu
Kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus
Tak henti
Walaupun sampai akhir hayatku
Tapi tak lagi kau berada di sisiku

Kudekati dirimu
Kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun oh...
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus
Tak henti
Walaupun sampai akhir hayatku
Tapi tak lagi kau berada di sisiku
Oh... angin malam bawa daku kepadanya...
Oh... oh...

Mendengar lagu ini saat malam-malam memang resep yang paling pas untuk mengenang seseorang. Tentang detik-detik perpisahan, tentang rindu, bahkan tentang masihnya ada harapan agar perasaannya tersampaikan pada yang dicinta. Mungkin sebagian orang akan berderai air mata atau sebagian yang lain sekadar senyum. Saya termasuk dua-duanya. Om Broery, mengapa dirimu membawakan lagu ini begitu sedap?

Jangan ditanya lagi kadar kesedihan lagu ini. Segalanya tumpah kalau memang hati sedang sedih. Apalagi buat seseorang tipe melankoli macam saya. Secara otomatis merasa lagu ini diciptakan untuk saya.

Lagu ini mengingatkan saya pada seseorang yang pernah singgah dalam kehidupan saya. Masa terakhir saya bertemu dengannya memang malam hari yang hening dengan sisa senyumannya saja. Hingga kini masih saja teringat bila saya sedang sendiri atau mendengarkan lagu melow. Salah satunya, lagu Angin Malam ini.

Ingin rasanya seseorang yang meninggalkan saya mendengarkan lagu ini dan berharap dia paham tentang perasaan saya kala itu. Ingin rasanya dia kembali walau saya sadar itu sebuah kemustahilan. Andai, andai, andai, dan andai. Tentang setitik doa agar Tuhan melalui semesta menyampaikan rindu ke dalam hatinya. Sesederhana itu. Tidak bisa banyak berharap. Hanya itu yang berkecamuk di pikiran dan remuk redam dalam hati.

Ya, kita tidak bisa meminta seseorang untuk menetap selamanya di hidup kita. Tuhan sebenarnya sudah menyiapkan kita bertemu dengan dia untuk apa, untuk berapa lama. Ada si A yang ditakdirkan bertemu kita hanya untuk menjadikan kita pribadi sabar. Ada si B yang mengajarkan kita tentang kehilangan yang hakikatnya sebuah keniscayaan. Ada juga si C yang hadir hanya untuk membuat hati semakin kuat. Beruntung bila kita pada akhirnya bertemu dengan si Z yang Tuhan takdirkan menemani hidup hingga akhir hidup kita.

Lagu ini juga memiliki makna terhadap saya pribadi bahwa hidup ternyata tetap harus dijalani walau yang dicintai tak di samping kita. Hanya bisa mengenang tak boleh sedih berlebihan. Sepedih apa pun, sepahit apa pun kita wajib melek kalau hidup ini harus lebih baik dari sebelumnya.

Gak peduli lagu lawas, lagu ini berhasil membawa saya terhanyut dengan liriknya yang sedih tapi tidak terlalu galau. Ah Om Broery, bolehkah malam ini saja saya menangis mengenang dia yang hanya sekelebat hadir di kehidupan saya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar