oleh: Fatmasari Margaretta
Bumi sedang menunjukkan ketidakberdayaannya pada manusia yang
semena-mena. Bukan tak mungkin bila lima tahun ke depan bumi semakin kritis. Perubahan
iklim di mana-mana menyebabkan bumi enggan ramah pada manusia.
Jakarta, misalnya. Kemacetan memang telah mendarah daging
bagi warga Jakarta. Tapi, tidak dengan polusi. Ia makin membunuh warga Jakarta
secara perlahan. Ironisnya, warga Jakarta menyalahkan para petinggi dalam
buruknya kualitas udara. Sementara setiap hari mereka bergelut dengan karbon dioksida dan
gas-gas lainnya.
Contoh kecilnya, sisa pembakaran dari mesin kendaraan alias
knalpot dan aktivitas pabrik yang tidak bisa dihentikan secara langsung. Keadaan
itu berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah kita peduli akibat jangka
panjangnya. Kini, kondisi itu mempengaruhi kondisi iklim yang kian mengerikan.
Sebuah laporan berjudul Kualitas Udara Dunia 2018 pada Selasa
(5/3), AirVisual IQAir menetapkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara
terburuk di Asia Tenggara. Laporan yang merupakan hasil kerja sama dengan
Greenpeace Asia Tenggara ini menyoroti keberadaan particulate matter (PM) 2,5
dalam udara kota-kota besar di dunia sepanjang 2018. PM 2,5 adalah partikel
halus yang ukurannya tak lebih besar dari 2,5 mikrometer.
Dalam laporan tersebut, Jakarta dan Hanoi berada di dua
posisi teratas dengan label kota di Asia Tenggara dengan kualitas udara
terburuk. Sisanya ditempati kota-kota lain, seperti Filipina dan Thailand. Jakarta
memiliki konsentrasi
rata-rata tahunan P) 2,5 tahun 2018 mencapai 45,3 µg/m3, sedang Hanoi, 40,8
µg/m3. Artinya, konsentrasi PM 2,5 di Jakarta sampai empat kali lipat dari
batas aman tahunan menurut standar WHO, yakni 10 µg/m3. Angka itu, melebihi
batas aman tahunan, padahal standar nasional pada PP Nomor 41/1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara, yakni 15 µg/m3.
AirVisual IQAir juga mengungkapkan sebuah fakta
mencengangkan. Yakni, polusi dari kendaraan pribadi di Jakarta jadi sumber polusi. Belum lagi
ditambah polutan dari PLTU yang mengungkung Jakarta dalam radius 100 km turut
berkontribusi meningkatkan konsentrasi PM 2,5. Sungguh data itu membuat
gambaran Jakarta kelabu.
Polusi dan Kesehatan
Bisa kita bayangkan betapa polusi menjadi monster yang bisa
saja membunuh warga Indonesia, terutama Jakarta. Kualitas udara mampu mengancam
kesehatan para anak bangsa. Seperti penyakit pernapasan dan penyakit menular. Belum
lagi penyakit mental yang bisa menyerang siapa pun.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K),
MARS, DTM&H, DTCE dalam laman Departemen Kesehatan menjelaskan, perubahan
iklim juga akan memicu semakin berkurangnya keanekaragaman hayati. Dengan
begitu, dapat menyebabkan kelangkaan bahan baku obat dari tumbuhan. Dampak perubahan
iklim seperti mata rantai yang sulit diputus. Kecuali dengan kesadaran invidu
untuk mau memutuskan mata rantai tersebut.
Menjaga Bumi
Bukan hanya Jakarta yang tengah berjuang lepas dari polusi
udara. Di kota-kota besar hingga perdesaan pun merasakan dampak yang luar
biasa. Sayang, pemerintah kurang bertaji menekan kepemilikan unit kendaraan
pribadi. Padahal, cara itu sudah diterapkan puluhan tahun yang lalu oleh negara
maju seperti Singapura atau Jepang.
Kebijakan penerapan electronic road
pricing (ERP) menjadi salah satu upaya pemerintah menekan volume kendaraan
pribadi. Dengan sistem ERP berbasis satelit, pengendara kendaraan bermotor akan
dikenai biaya sesuai dengan jarak tempuh. Semakin jauh jarak tempuh kendaraan
pribadi, akan semakin mahal biaya ERP yang dikenakan kepada pengendara
kendaraan bermotor tersebut.
Ya, sebenarnya sederhana untuk menjaga bumi dari
kungkungan polusi. Beralih ke kendaraan umum adalah salah satu cara agar
menekan kendaraan pribadi yang mampu menyebabkan polusi dengan cepat. Bila
terasa susah, sebaiknya dari sekarang kita mengurangi menggunakan kendaraan
pribadi kecuali mendesak. Kedua, mulailah menanam pohon di halaman rumah. Mari berkontribusi
sedikit saja pada negara kita. Hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar
bagi negara bila dilakukan secara terus-menerus.
Semoga kita berhenti berdebat
tentang siapa yang salah karena polusi tak kunjung menemukan solusi. Sebaliknya,
sadarlah bahwa bumi ini ingin diselamatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar