Selasa, 20 Agustus 2019

Polusi, Monster yang Siap Membunuh Kapan Saja

oleh: Fatmasari Margaretta


Bumi sedang menunjukkan ketidakberdayaannya pada manusia yang semena-mena. Bukan tak mungkin bila lima tahun ke depan bumi semakin kritis. Perubahan iklim di mana-mana menyebabkan bumi enggan ramah pada manusia. 

Jakarta, misalnya. Kemacetan memang telah mendarah daging bagi warga Jakarta. Tapi, tidak dengan polusi. Ia makin membunuh warga Jakarta secara perlahan. Ironisnya, warga Jakarta menyalahkan para petinggi dalam buruknya kualitas udara. Sementara setiap hari mereka bergelut dengan karbon dioksida dan gas-gas lainnya. 

Contoh kecilnya, sisa pembakaran dari mesin kendaraan alias knalpot dan aktivitas pabrik yang tidak bisa dihentikan secara langsung. Keadaan itu berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah kita peduli akibat jangka panjangnya. Kini, kondisi itu mempengaruhi kondisi iklim yang kian mengerikan. 

Sebuah laporan berjudul Kualitas Udara Dunia 2018 pada Selasa (5/3), AirVisual IQAir menetapkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara. Laporan yang merupakan hasil kerja sama dengan Greenpeace Asia Tenggara ini menyoroti keberadaan particulate matter (PM) 2,5 dalam udara kota-kota besar di dunia sepanjang 2018. PM 2,5 adalah partikel halus yang ukurannya tak lebih besar dari 2,5 mikrometer.

Dalam laporan tersebut, Jakarta dan Hanoi berada di dua posisi teratas dengan label kota di Asia Tenggara dengan kualitas udara terburuk. Sisanya ditempati kota-kota lain, seperti Filipina dan Thailand. Jakarta memiliki konsentrasi rata-rata tahunan P) 2,5 tahun 2018 mencapai 45,3 µg/m3, sedang Hanoi, 40,8 µg/m3. Artinya, konsentrasi PM 2,5 di Jakarta sampai empat kali lipat dari batas aman tahunan menurut standar WHO, yakni 10 µg/m3. Angka itu, melebihi batas aman tahunan, padahal standar nasional pada PP Nomor 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yakni 15 µg/m3.

AirVisual IQAir juga mengungkapkan sebuah fakta mencengangkan. Yakni, polusi dari kendaraan pribadi di Jakarta jadi sumber polusi. Belum lagi ditambah polutan dari PLTU yang mengungkung Jakarta dalam radius 100 km turut berkontribusi meningkatkan konsentrasi PM 2,5. Sungguh data itu membuat gambaran Jakarta kelabu.

Polusi dan Kesehatan
Bisa kita bayangkan betapa polusi menjadi monster yang bisa saja membunuh warga Indonesia, terutama Jakarta. Kualitas udara mampu mengancam kesehatan para anak bangsa. Seperti penyakit pernapasan dan penyakit menular. Belum lagi penyakit mental yang bisa menyerang siapa pun. 

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE dalam laman Departemen Kesehatan menjelaskan, perubahan iklim juga akan memicu semakin berkurangnya keanekaragaman hayati. Dengan begitu, dapat menyebabkan kelangkaan bahan baku obat dari tumbuhan. Dampak perubahan iklim seperti mata rantai yang sulit diputus. Kecuali dengan kesadaran invidu untuk mau memutuskan mata rantai tersebut. 

Menjaga Bumi
Bukan hanya Jakarta yang tengah berjuang lepas dari polusi udara. Di kota-kota besar hingga perdesaan pun merasakan dampak yang luar biasa. Sayang, pemerintah kurang bertaji menekan kepemilikan unit kendaraan pribadi. Padahal, cara itu sudah diterapkan puluhan tahun yang lalu oleh negara maju seperti Singapura atau Jepang. 

Kebijakan penerapan electronic road pricing (ERP) menjadi salah satu upaya pemerintah menekan volume kendaraan pribadi. Dengan sistem ERP berbasis satelit, pengendara kendaraan bermotor akan dikenai biaya sesuai dengan jarak tempuh. Semakin jauh jarak tempuh kendaraan pribadi, akan semakin mahal biaya ERP yang dikenakan kepada pengendara kendaraan bermotor tersebut.

Ya, sebenarnya sederhana untuk menjaga bumi dari kungkungan polusi. Beralih ke kendaraan umum adalah salah satu cara agar menekan kendaraan pribadi yang mampu menyebabkan polusi dengan cepat. Bila terasa susah, sebaiknya dari sekarang kita mengurangi menggunakan kendaraan pribadi kecuali mendesak. Kedua, mulailah menanam pohon di halaman rumah. Mari berkontribusi sedikit saja pada negara kita. Hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar bagi negara bila dilakukan secara terus-menerus. 

Semoga kita berhenti berdebat tentang siapa yang salah karena polusi tak kunjung menemukan solusi. Sebaliknya, sadarlah bahwa bumi ini ingin diselamatkan.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar