Kamis, 01 Agustus 2019

Yang Terjahat Adalah Jarak


Kemarin
Kulihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku

Tangis itu pun pecah. Memuncah dalam diam. Ellie tak mampu menahan bulir air matanya. Di pojok sudut apartemennya, dia menangis sendirian. Jam tangannya menunjukkan pukul 19.03. Namun kesunyian malam saat itu tak mampu membuat Ellie tenang. Kabar terburuk yang didapat mengoyak perasaannya saat itu. Suami tercintanya, Tirta, tewas dalam kecelakaan udara.

                                                ***     ***     ***

Masih jelas teringat semua kekonyolannya bersama Tirta setiap hari. Masih terpampang manis seluruh kenangan dengan laki-laki yang susah payah membahagiakannya. Ellie, seorang sekretaris di perusahaan yang bergerak di bidang properti. Sedangkan Tirta, seorang konsultan pemerintahan di ibu kota. Mereka hanya bisa bertemu saat petang dan sebelum matahari terbit. Semua risiko itu tak membuat hubungan mereka renggang, kecuali satu hari di tanggal 15 itu.

“Halo seksiku, kita bisa ketemu di jam makan siang? Ada yang harus aku sampein ke kamu,” Tirta memulai percakapan via telepon.
”Boleh gantengku. Kebetulan lagi ada waktu luang. Di tempat makan biasa ya.”
“Oke seksiku. Miss you.
Miss you too sayang.”

***     ***     ***

Tirta tiba lebih awal. Ada raut kecemasan di garis wajahnya. Beberapa menit kemudian muncul sosok yang ditunggu. Tak berhenti Tirta mengetuk meja dengan jarinya hingga membuat Ellie curiga.
“Loh, sudah pesan makanan rupanya. Oh ya, ada apa? Apa yang mau kamu omongin sayang?”
“Aku to the point ya. Gini, minggu depan aku ditugaskan ke Inggris. Ini kesempatanku sebenarnya untuk promosi jabatan. Kamu ngizinin aku kan?"
Ellie terdiam. Ellie tak pernah bisa jauh dari Tirta. Segala cobaan ujian bisa mereka lewati kecuali jarak. Ya, jarak adalah musuh terbesar bagi Ellie. Dan, mereka pasti tahu ini akan jadi awal kerenggangan hubungan itu.
“Jangan tanyakan hal itu. Jangan tanyakan hal yang kamu tahu jawabannya.” mata Ellie berkilat.
Mereka terdiam begitu lama. Makanan di depan mereka dingin tak tersentuh.

***     ***     ***

Kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya


            “Sayang, tolong jangan pergi. Ini sangat mendadak. Aku gak sanggup berteman dengan jarak.”
            “Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku pantas. Sepulang dari Inggris, berhentilah bekerja. Sekali ini saja. Tak lama.”

Balasan pesan pendek dari Tirta sungguh mengalutkan pikiran Ellie. Dia tidak rela suaminya kali ini berangkat ke Inggris. Ada sesuatu bergemuruh di hati dan pikirannya yang terus memburunya tiap waktu dan siap membunuhnya kapan saja.
Semalaman Ellie tak bisa memejam. Suaminya tidur lebih awal, mungkin khawatir ketinggalan pesawat.

***     ***     ***

Tirta tetap pada keputusannya. Ellie pun enggan mengantarkannya ke bandara. Tirta membiarkan Ellie berlaku demikian, karena dia ingin membuktikan dia bisa membahagiakan Ellie lebih dan lebih setelah jabatannya naik usai tugas dari Inggris. Namun, musibah terjadi beberapa jam setelah pesawat lepas landas. Pesawat yang ditumpangi Tirta lepas kendali dan kecelakaan pun tak terhindarkan. Seluruh orang di dalam pesawat tewas, tak terkecuali Tirta.

Dan lihatlah, sayang
Hujan turun membasahi
Seolah turun air mata

Pihak maskapai mengubungi keluarga korban tewas. Ellie tak berdaya menerima kabar itu. Air matanya terus menjadi saksi atas cintanya pada Tirta.
“Kamu bodoh sayang, kamu bodoh. Kenapa kamu gak denger omonganku untuk membatalkan keputusanmu? Maafkan aku, maafkan aku karena gak bisa menahanmu pergi!” teriak Ellie.
Bagi Ellie, Tirta adalah segalanya. Semua yang dia lakukan akan terasa sempurna bila bersama Tirta. Termasuk, memberi saran sepele pada Ellie.
Sekarang, apa daya Ellie tanpa Tirta? Ellie merasa tak mampu hidup tanpa Tirta. Lima tahun pacaran dan tiga tahun menikah membuat Ellie bahagia. Dilahirkan sebagai anak yatim piatu, membuat dirinya dikuatkan saat bersama Tirta. Karir Ellie yang terbilang lebih cemerlang daripada Tirta akhirnya hanya sia-sia belaka tanpa sosok Tirta dalam hidupnya.

***     ***     ***

Seorang sekuriti memaksa masuk kamar 309. Sebab, sudah dua hari penghuni kamar tersebut tak menampakkan aktivitas. Ellie pun terdata absen tanpa keterangan di kantornya.
Akhirnya pihak apartemen memutuskan untuk masuk paksa kamar Ellie. Sekuriti menemukannya tewas bersimbah darah di kamar mandi. Kepolisian menyatakan Ellie bunuh diri dengan memotong urat nadi di tangan kirinya menggunakan pisau. Di tangannya tetap tergenggam foto pernikahannya bersama Tirta.

Aku pun sadari
Engkaulah firasat hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar