Jumat, 08 Juni 2018

Last but Not Least

SUDAH di penghujung tantangan ya ternyata. Sudah berakhir ya? Rasanya tak pernah rela. Rasanya enggan mengakui kalau tulisan ini adalah tulisan terakhir di Katahati Writing Challenge.

Berawal dari hobi membaca, aku pun ingin membiasakan diri menulis. Sebab, dari tulisan itulah kita abadi. Aku ingin anakku kelak bangga ibunya suka menulis apa pun. Tentang hidup, tentang kematian, tentang suka, tentang duka, tentang pelangi usai hujan, tentang rintik di bulan Juni, tentang hangat peluk ayahnya, atau bahkan tentang remeh temeh rambutnya yang mulai beruban.

Kali pertama tahu tentang @_katahatikita dari kolom explore di Instagram. Tertarik dengan background berwarna hijau tosca yang saat itu sangat mencolok. Lucu, unik.

Apa ya ini? Tujuh hari menulis? Wah, kok kebetulan ya lagi pengin nulis ada challenge kayak gini. Buka ah. Begitulah hal pertama yang membawaku menuju rumah hangat berikutnya.

Tanggal dua puluh empat bulan Mei, aku curi-curi waktu di kantor untuk langsung DM ke @_katahatikita. Aku tak mau ketinggalan kereta untuk daftar. Bodoh amat saat itu kalau aku adalah seorang perempuan dari Pulau Garam yang pastinya kalah apa pun dengan peserta lain. Bodoh amat. Saat langsung masuk WhatsApp Group? Tak pernah menyangka akan diterima oleh adminnya yang saat itu bernama Amel Widya. Lah, cek cek kok gak asing ya dengan wajahnya? Ternyata oh ternyata Mbak Amel ini adalah separo jiwanya Bang Krishna Pabichara, salah satu penulis favoritku. Huaa, happy-nya berlipat-lipat. Biarin dibilang kampungan atau apa, tapi saat itu benar-benar happy.

Ini pertama kalinya aku ikut tantangan menulis. Aku juga pertama kalinya ikut kegiatan yang diadakan @_katahatikita. Mungkin termasuk yang terlambat untuk belajar menulis. Tapi, lagi-lagi aku bodoh amat dengan anggapan 'terlambat' belajar menulis. Awalnya gak percaya diri. Duh, ibarat ikut ujian sekolah jangan-jangan kualitas tulisanku terburuk dan nilaiku paling jelek. Pikiran itu sempat 2-3 hari membayangi. Tapi akhirnya bisa aku hempaskan dengan perlahan-lahan terus menulis dan menulis.

Walaupun terbilang baru di dunia ini, aku ingin terus belajar. Karena menulis bukan masalah bakat. Menulis perihal terus mengasah tanpa lelah. Sebelum menulis di Katahari, biasanya aku menulis puisi dan cerpen di Ms. Word. Tapi, hanya rapi di folder saja. Tak pernah kupublikasikan. Tak pernah. Ya kalau quote ya sering diunggah, tapi untuk tulisan seperti puisi, cerpen, atau tulisan lain hanya jadi konsumsi pribadi semata. Berkat Katahati, aku mulai berani memublikasikan karya remehku ini. Berkat Katahati, akhirnya aku punya blog. Yang awalnya nulis tantangan pertama di Instagram dengan tulisan hingga tiga feed, bikin pusing kepala yang baca bolak-balik, akhirnya bikin Blog yang seadanya saja dulu. Yang terpenting menulis, hehe.

Di WAG, aku merasa punya ruang lingkup teman yang lebih luas. Meskipun via online, tapi sangat terasa vibrasi kekeluargaan dan kehangatan yang terjalin setiap harinya. Hebatnya, anggota WAG @_katahatikita selalu memberi dukungan ke anggota lain yang lagi kurang semangat menulis. Tak pernah aku melihat ada anggota iri hati atau merasa tersaingi atau merasa paling baik karena ini adalah suatu kompetisi menulis yang ada hadiahnya. TIDAK ADA. Semuanya saling dukung, saling hibur, sambil bercanda di sela-sela waktu kosong. Ah, kalian semua hebat, kalian semua terbaik, kalian semua berhak dapat hadiah buku. Give applause buat kalian semua yang ada di WAG @_katahatikita.

Aku akan merindukan momen WAG yang masih rame tengah malam bahas Parakang yang sangat asing di telinga. Akhirnya, aku jadi penyimak yang andal. Hahaha. Aku memang sudah biasa dengan makhluk halus dan berhasil tutup mata batin walau nanti terbuka kembali. Tapi, mendengar cerita tentang Parakang, rasanya tak akan pernah bosannya aku menyimak. Setelah ini, malam-malamku akan terasa berbeda. Tak ada lagi cerita Parakang atau cerita mistis lainnya yang berujung gelak tawa karena saling melempar lelucon. Tak ada lagi cerita dari para anggota yang isinya hebat-hebat, materinya keren-keren, kemampuan menulisnya jempol semua. Mereka semua guru bagiku dalam hal menulis dan tersenyum. Setelah ini aku akan lebih rajin menulis. Tentang apa pun.

Terima kasih buat Kak Amel yang selalu support anggota @_katahatikita, yang selalu berbaur dan humble. Aku bakal merindukanmu, Kak. Nomorku jangan dihapus ya, pasti aku sering-sering say hello buat silaturahmi dengan dirimu, Kak. Makasih buat Kak Irfan yang sudah menularkan ilmu menulisnya. Makasih buat semua anggota @_katahatikita yang selalu bisa bikin semangat naik lagi kalau lagi pusing dan cari waktu nulis. Silaturahminya jangan terputus setelah tantangan menulis ini kelar ya. Please jangan ya. Ayo kapan-kapan kalau kalian ke Madura, hubungi aku ya. Banyak banget loh destinasi wisata di sini. Aku akan merindukan kalian semua. ILU all...


2 komentar:

  1. Akuuuu... akuuu.... belum pernah ke Maduraaa... #salfok haha

    BalasHapus
  2. hahay... miris, ironis ya diriku ini ada di Pulau Madura. Yuk, ah Kak main-main ke sini. *ciumjauh

    BalasHapus