Minggu, 27 Januari 2019

Bukan Rumah

Rumah ini bukan rumah
Hangatnya tak terasa
Padahal temu adalah niscaya
Kakak-adik bak bukan siapa-siapa

Rumah ini bukan rumah
Makan tak pernah semeja
Jarang kudengar pamit salam
Tiba-tiba pergi secepat kilat

Rumah ini bukan rumah
Hanyalah melahirkan duka
Saling umpat sesama saudara
Suasana pagi-malam serupa di neraka

Rumah ini bukan rumah
Cicak dan serangga lain pun terheran-heran
Mengapa sepi selalu menjelma tanya
Apakah penghuninya ini benar-benar keluarga?

Rumah ini bukan rumah
Sebab pulang tak menjadi jawaban keresahan
Maka ku akhiri segala air mata dan debat
Pergi dari rumah selamanya

Biarlah...
Kali ini aku mengalah
Agar rumah itu menjadi rumah
Yang diharapkan pulangnya

Bangkalan, 28 Januari 2019

Jumat, 25 Januari 2019

Andai, Andai, dan Andai

Berhembus angin malam
Mencekam menghempas
Membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu

Kudekati dirimu
Kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus
Tak henti
Walaupun sampai akhir hayatku
Tapi tak lagi kau berada di sisiku

Kudekati dirimu
Kau diam
Tersungging senyuman di bibirmu
Itulah senyuman yang terakhir darimu

Diiring gemuruh angin
Meniup daun-daun oh...
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan jiwa raga

Angin tetap berhembus
Tak henti
Walaupun sampai akhir hayatku
Tapi tak lagi kau berada di sisiku
Oh... angin malam bawa daku kepadanya...
Oh... oh...

Mendengar lagu ini saat malam-malam memang resep yang paling pas untuk mengenang seseorang. Tentang detik-detik perpisahan, tentang rindu, bahkan tentang masihnya ada harapan agar perasaannya tersampaikan pada yang dicinta. Mungkin sebagian orang akan berderai air mata atau sebagian yang lain sekadar senyum. Saya termasuk dua-duanya. Om Broery, mengapa dirimu membawakan lagu ini begitu sedap?

Jangan ditanya lagi kadar kesedihan lagu ini. Segalanya tumpah kalau memang hati sedang sedih. Apalagi buat seseorang tipe melankoli macam saya. Secara otomatis merasa lagu ini diciptakan untuk saya.

Lagu ini mengingatkan saya pada seseorang yang pernah singgah dalam kehidupan saya. Masa terakhir saya bertemu dengannya memang malam hari yang hening dengan sisa senyumannya saja. Hingga kini masih saja teringat bila saya sedang sendiri atau mendengarkan lagu melow. Salah satunya, lagu Angin Malam ini.

Ingin rasanya seseorang yang meninggalkan saya mendengarkan lagu ini dan berharap dia paham tentang perasaan saya kala itu. Ingin rasanya dia kembali walau saya sadar itu sebuah kemustahilan. Andai, andai, andai, dan andai. Tentang setitik doa agar Tuhan melalui semesta menyampaikan rindu ke dalam hatinya. Sesederhana itu. Tidak bisa banyak berharap. Hanya itu yang berkecamuk di pikiran dan remuk redam dalam hati.

Ya, kita tidak bisa meminta seseorang untuk menetap selamanya di hidup kita. Tuhan sebenarnya sudah menyiapkan kita bertemu dengan dia untuk apa, untuk berapa lama. Ada si A yang ditakdirkan bertemu kita hanya untuk menjadikan kita pribadi sabar. Ada si B yang mengajarkan kita tentang kehilangan yang hakikatnya sebuah keniscayaan. Ada juga si C yang hadir hanya untuk membuat hati semakin kuat. Beruntung bila kita pada akhirnya bertemu dengan si Z yang Tuhan takdirkan menemani hidup hingga akhir hidup kita.

Lagu ini juga memiliki makna terhadap saya pribadi bahwa hidup ternyata tetap harus dijalani walau yang dicintai tak di samping kita. Hanya bisa mengenang tak boleh sedih berlebihan. Sepedih apa pun, sepahit apa pun kita wajib melek kalau hidup ini harus lebih baik dari sebelumnya.

Gak peduli lagu lawas, lagu ini berhasil membawa saya terhanyut dengan liriknya yang sedih tapi tidak terlalu galau. Ah Om Broery, bolehkah malam ini saja saya menangis mengenang dia yang hanya sekelebat hadir di kehidupan saya?

Jumat, 08 Juni 2018

Last but Not Least

SUDAH di penghujung tantangan ya ternyata. Sudah berakhir ya? Rasanya tak pernah rela. Rasanya enggan mengakui kalau tulisan ini adalah tulisan terakhir di Katahati Writing Challenge.

Berawal dari hobi membaca, aku pun ingin membiasakan diri menulis. Sebab, dari tulisan itulah kita abadi. Aku ingin anakku kelak bangga ibunya suka menulis apa pun. Tentang hidup, tentang kematian, tentang suka, tentang duka, tentang pelangi usai hujan, tentang rintik di bulan Juni, tentang hangat peluk ayahnya, atau bahkan tentang remeh temeh rambutnya yang mulai beruban.

Kali pertama tahu tentang @_katahatikita dari kolom explore di Instagram. Tertarik dengan background berwarna hijau tosca yang saat itu sangat mencolok. Lucu, unik.

Apa ya ini? Tujuh hari menulis? Wah, kok kebetulan ya lagi pengin nulis ada challenge kayak gini. Buka ah. Begitulah hal pertama yang membawaku menuju rumah hangat berikutnya.

Tanggal dua puluh empat bulan Mei, aku curi-curi waktu di kantor untuk langsung DM ke @_katahatikita. Aku tak mau ketinggalan kereta untuk daftar. Bodoh amat saat itu kalau aku adalah seorang perempuan dari Pulau Garam yang pastinya kalah apa pun dengan peserta lain. Bodoh amat. Saat langsung masuk WhatsApp Group? Tak pernah menyangka akan diterima oleh adminnya yang saat itu bernama Amel Widya. Lah, cek cek kok gak asing ya dengan wajahnya? Ternyata oh ternyata Mbak Amel ini adalah separo jiwanya Bang Krishna Pabichara, salah satu penulis favoritku. Huaa, happy-nya berlipat-lipat. Biarin dibilang kampungan atau apa, tapi saat itu benar-benar happy.

Ini pertama kalinya aku ikut tantangan menulis. Aku juga pertama kalinya ikut kegiatan yang diadakan @_katahatikita. Mungkin termasuk yang terlambat untuk belajar menulis. Tapi, lagi-lagi aku bodoh amat dengan anggapan 'terlambat' belajar menulis. Awalnya gak percaya diri. Duh, ibarat ikut ujian sekolah jangan-jangan kualitas tulisanku terburuk dan nilaiku paling jelek. Pikiran itu sempat 2-3 hari membayangi. Tapi akhirnya bisa aku hempaskan dengan perlahan-lahan terus menulis dan menulis.

Walaupun terbilang baru di dunia ini, aku ingin terus belajar. Karena menulis bukan masalah bakat. Menulis perihal terus mengasah tanpa lelah. Sebelum menulis di Katahari, biasanya aku menulis puisi dan cerpen di Ms. Word. Tapi, hanya rapi di folder saja. Tak pernah kupublikasikan. Tak pernah. Ya kalau quote ya sering diunggah, tapi untuk tulisan seperti puisi, cerpen, atau tulisan lain hanya jadi konsumsi pribadi semata. Berkat Katahati, aku mulai berani memublikasikan karya remehku ini. Berkat Katahati, akhirnya aku punya blog. Yang awalnya nulis tantangan pertama di Instagram dengan tulisan hingga tiga feed, bikin pusing kepala yang baca bolak-balik, akhirnya bikin Blog yang seadanya saja dulu. Yang terpenting menulis, hehe.

Di WAG, aku merasa punya ruang lingkup teman yang lebih luas. Meskipun via online, tapi sangat terasa vibrasi kekeluargaan dan kehangatan yang terjalin setiap harinya. Hebatnya, anggota WAG @_katahatikita selalu memberi dukungan ke anggota lain yang lagi kurang semangat menulis. Tak pernah aku melihat ada anggota iri hati atau merasa tersaingi atau merasa paling baik karena ini adalah suatu kompetisi menulis yang ada hadiahnya. TIDAK ADA. Semuanya saling dukung, saling hibur, sambil bercanda di sela-sela waktu kosong. Ah, kalian semua hebat, kalian semua terbaik, kalian semua berhak dapat hadiah buku. Give applause buat kalian semua yang ada di WAG @_katahatikita.

Aku akan merindukan momen WAG yang masih rame tengah malam bahas Parakang yang sangat asing di telinga. Akhirnya, aku jadi penyimak yang andal. Hahaha. Aku memang sudah biasa dengan makhluk halus dan berhasil tutup mata batin walau nanti terbuka kembali. Tapi, mendengar cerita tentang Parakang, rasanya tak akan pernah bosannya aku menyimak. Setelah ini, malam-malamku akan terasa berbeda. Tak ada lagi cerita Parakang atau cerita mistis lainnya yang berujung gelak tawa karena saling melempar lelucon. Tak ada lagi cerita dari para anggota yang isinya hebat-hebat, materinya keren-keren, kemampuan menulisnya jempol semua. Mereka semua guru bagiku dalam hal menulis dan tersenyum. Setelah ini aku akan lebih rajin menulis. Tentang apa pun.

Terima kasih buat Kak Amel yang selalu support anggota @_katahatikita, yang selalu berbaur dan humble. Aku bakal merindukanmu, Kak. Nomorku jangan dihapus ya, pasti aku sering-sering say hello buat silaturahmi dengan dirimu, Kak. Makasih buat Kak Irfan yang sudah menularkan ilmu menulisnya. Makasih buat semua anggota @_katahatikita yang selalu bisa bikin semangat naik lagi kalau lagi pusing dan cari waktu nulis. Silaturahminya jangan terputus setelah tantangan menulis ini kelar ya. Please jangan ya. Ayo kapan-kapan kalau kalian ke Madura, hubungi aku ya. Banyak banget loh destinasi wisata di sini. Aku akan merindukan kalian semua. ILU all...


Kamis, 07 Juni 2018

Semua akan Merasakan Kematian


TAK ada. Tak ada yang menginginkan mati sia-sia. Pun mereka yang akhirnya mati dalam sebuah kecelakaan tragis pasti pernah berdoa tentang kematian yang baik, husnulkhatimah.

Sedekat nadi, sedekat bayangan. Itulah gambaran ketakutan saya terhadap kematian. Bayangkan saja, kematian begitu dekat bahkan sedekat nadi. Selalu bersama setiap hari, pada tiap helaan napas. Kematian juga sedekat bayangan. Mengikuti ke mana pun. Ada di mana pun. Menemani kapan pun.
Saya kerap merinding bila membahas tentang kematian. Karena kita tahu kematian adalah kepastian. Tak ada nilai tawar. Kita hanya antre hingga tiba masanya untuk 'pulang'.

Saya memang pernah takut mati. Tapi tidak setiap hari. Bisa gila saya bila tengkungkung rasa ketakutan berlebih karena kematian. Semasa kecil, pikiran saya tentang kematian hanya ini: kematian adalah rasa sakit, terpisah dari orang terkasih, dan disiksa entah berapa lama. Tahu apa yang terjadi setelahnya? Saya menjadi supertakut. Menjadi sosok superintrovert karena dibayang-bayangi kematian. Apakah itu bagus? Ya. Tentu. Bagus dong karena ingat mati. Tapi tidak dengan efeknya!! Saya menjadi manusia yang tidak produktif. Sama sekali.

Seiring waktu berjalan, saya mulai menemukan jawaban atas ketakutan itu. Kematian adalah pasti. Kita tidak mati, kita hanya akan pulang ke tempat kita sebenarnya. Sejak saat itu, saya mulai pasrah. Tanpa mengesampingkan hal-hal duniawi, untuk bekal nanti di akhirat.

Kita tentu sepakat bahwa sampai kapan pun tidak ada dan tidak ditemukan sebuah formulasi bahkan obat penawar kematian. Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang tidak tersentuh oleh kematian. Bahkan, Rasulullah SAW, sang kekasih Allah-pun merasakan kematian. Jadi, kematian tidak bisa ditolak atau bahkan dihindari sampai ke ujung dunia.

Sekarang pertanyaan sebenarnya adalah bukan kapan kematian akan menjemput, tapi apa yang akan kita persiapkan bila kematian itu tiba. Itu akan terdengar lebih nyaman dan tenang, bukan?

Bila kematian merenggut saya lebih cepat dari helaan napas, saya sangat sedih bila tak mampu memberikan hal terbaik untuk suami dan anak dan. Siapa yang akan menyiapkan kemeja untuk suami bekerja? Siapa yang akan mengingatkan dia tentang jaket yang kerap dia lupa bawa? Siapa yang akan mengingatkan dia untuk meletakkan kembali handuk di jemuran? Siapa yang yang akan cerewet menasihati perihal odol yang seharusnya dipencet dari bawah bukan dari tengah? Siapa yang akan memeluknya kala demam menyerang di tengah malam? Dan blablabla lainnya yang tak sanggup kusebutkan di sini satu-satu. *tiba-tiba nangis....

Maka dari itu, saya sering berdiskusi berujung perdebatan dengan suami tentang kematian. Saya selalu bilang lekaslah mencari pengganti peran istri dan ibu bila diri ini pulang lebih dulu. Agar saya tenang akan ada seseorang yang merawat suami dan anak kelak. Tetapi, lagi-lagi saya dibuat menangis di pelukannya.
 
Dia selalu melontarkan kalimat ini entah sudah berapa kali: Aku ingin bertemu kamu di Surga. Kalau aku mencari penggantimu, aku takkan pernah bertemu kamu di Surga. Aku mau kita bertemu di Surga. ..